senin atau selasa?

Senin atau selasa? Itu pertanyaan yang sedang sering mengundang jawab saat ini. Saya enggak ingin menganalisis macam-macam, tapi ingin memberikan visualisasi kejadian yang sedang dipertanyakan ini (kejadian macam ini pernah saya ulas juga di blog lama saya).

Exhibit #1:

Ahad, 22 Okt

Di atas bisa kita lihat bulan masih berada pada ketinggian yang rendah (entah berapa ukurannya). Secara “tradisional” sih kita memasuki bulan baru ketika kita bisa melihat bulan baru (d’oh). Sekarang pertanyaannya menjadi, pada saat bulan dihitung telah berada di atas ufuk ketika matahari terbenam (dan divisualisasikan dalam citra di atas), bisakah kita melihat si bulan dengan mata telanjang (rukyat)?
Exhibit #2:

Senin, 23 Okt

Perbedaan pendapat macam di atas tidak akan terjadi kalau menjelang hari ke-29 posisi bulan sudah jauh di atas ufuk seperti yang terjadi pada gambar berikutnya. Gambar ke dua adalah visualisasi posisi bulan pada hari Senin magrib. Tidak akan ada orang yang protes bulan hasil hitungan tidak bisa dilihat dengan mata.

Jadi senin atau selasa? Jawaban saya sih, kenapa tidak kita serahkan saja pada pemerintah? Buat saya ada masalah yang lebih penting dari ‘senin atau selasa’. Kenapa kita tidak pernah meributkan kenapa justru saat bulan puasa lalu lintas cenderung bertambah macet? Kenapa orang-orang cenderung tidak sabaran di jalan? (apalagi menjelang waktu berbuka) Kenapa ada kecenderungan untuk konsumtif?

Kalau kata Joe Mullaly si salesman komputer: I judge a religion as being good or bad based on whether its adherents become better people as a result of practicing it.

Selamat berlebaran bagi yang merayakan, saya mohonkan maaf yang tulus jika ada kesalahan saya dalam tulisan atau perbuatan yang membuat rekan-rekan sekalian tidak berkenan.

2 Tanggapan so far »

  1. 1

    ebonk said,

    Emang lebih enak memandang dari sisi sains daripada dari sisi mistik.
    http://www.ebonk.org/blog/archives/2006/10/24/rukyat-antara-mistis-dan-saintifik/

  2. 2

    obot said,

    eh, si ebonk. lama tak bersua..

    sebenernya gue enggak ingin memandang dari sisi sains (alam/sosial).. karena fenomenanya itu2 aja. dari taun ke taun ya gitu2 aja.. tulisan taun dulu sama sekarang ya gitu2 aja.. visualisasinya tetap sama..

    gua cuma ingin menggugat. kenapa tidak bisa bermufakat? perbedaan adalah rahmat. tapi apa masih ramhat kalau enggak bisa bermufakat. katakanlah berdemokrasi. memang demokrasi bukan bentuk ideal bagi sebagian orang beriman.. tapi setidaknya demokrasi adalah kerangka pragmatis untuk melangkah.

    gue juga ingin menggugat motivasi berpuasa.. masihkah sama dengan cita2 rasul dulu kalau kelakuan sehari-hari tidak banyak berubah baik?


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: