Spa

Spa lumpur Bakrie di Sidoarjo rupanya masih menimbulkan kericuhan. Akademisi sibuk menganalisis, politisi sibuk mencari kambing hitam, para korban masih mengungsi dan menjadi korban, sementara yang bertanggungjawab belum bertanggungjawab. Salah satu tulisan terakhir yang saya baca dari blog ini [1] juga  belum menunjukkan titik cerah.

Dikatakan bahwa pengertian pencemaran lingkungan harus diubah karena lumpur di spa Bakrie tersebut ternyata tidak ditemukan zat berbahaya. Memang betul. Tidak ada Hg (air raksa) seperti yang digosipkan (kalaupun ada, menurut tulisan tersebut jumlahnya tidak signifikan). Tapi apakah berarti tidak ada terjadi dampak terhadap lingkungan?

Saya menyepakati bahwa tidak perlu membuat susah urusan yang sudah ruwet. Turut prihatin pula mendengar selentingan bahwa ada oknum LH yang suka mempersulit pengurusan dokumen AMDAL bagi berbagai proyek. Tidak perlu juga membuat ketakutan akan dampak lingkungan tanpa dasar ilmiah. Namun yang perlu kita cermati adalah walaupun tidak ada polutan berbahaya (ambil contoh, logam berat) tidak lantas berati tidak ada dampaknya terhadap lingkungan!

Yang saya sebut dampak di sini adalah kerugian bagi ekosistem termasuk manusia sebagai penghuninya (utamanya dampak ekonomi). Sependek pengetahuan saya, itulah pencemaran. Terjadinya gangguan atau kerugian baik oleh proses alami ataupun non-alami. Lumpur dari Spa Bakrie boleh jadi memang alami. Akan tetapi prosesnya terjadi relatif lambat sehingga daya lenting (resilience) ekosistem relatif tidak terganggu pula. Tentu saja kejadiannya bisa lain apabila kita melakukan percepatan proses  dengan mengalirkan materi lumpur ke laut dengan pipa. Oleh karena itu yang perlu dikaji adalah seberapa besar percepatan proses yang dilakukan dengan pengaliran lumpur tersebut ke Selat Madura? Lalu berapa besar dampak dari proses tersebut terhadap ekosistem (dan manusia)? Bagaimana mengatasi dampak tersebut?

Walaupun materialnya dinyatakan tidak berbahaya secara kimiawi, sifat fisik dari lumpur dapat berbahaya bagi ekosistem. Masukan materi lumpur dapat meningkatkan paramater partikel padat tersuspensi (Total Suspended Solid –TSS) dalam air. Parameter ini adalah salah satu parameter yang dapat menentukan kelulushidupan kehidupan biota akuatik dan pada akhirnya keberlanjutan ekosistem. Mengapa? Seperti yang telah disebutkan dalam salah satu komentar dalam blog tersebut [2], lumpur dapat menghalangi sinar matahari yang masuk ke dalam badan perairan.

Saya bukan ahli perairan, akan tetapi secara empiris salah satu kemungkinan skenario yang terjadi adalah TSS naik -> perairan keruh -> fotosintesis terganggu -> produktivitas biota akuatik terganggu -> tingkatan trofik di atasnya ikut terganggu -> jejaring makanan akuatik terganggu (kehilangan ikan dan hasil laut lainnya). Tentu saja yang paling terganggu secara ekonomis adalah nelayan dan penambak. Maka perlu dikaji berapa besar dan berapa lama lumpur akan mengganggu parameter fisikokimia perairan? Berapa besar dampak perubahan fisikokimia tersebut terhadap ekosistem? Bagaimana menanggulangi dampak ekonomi yang dapat terjadi pada nelayan dan penambak di selat Madura? Dampak sosial?

Secara geologis lumpurnya memang alami. Akan tetapi yang kita pertaruhkan adalah persoalan lingkungan sehingga dampak aktivitas manusia (dalam kasus ini: meningkatkan masukan lumpur ke selat Madura) terhadap fisika-kimia lingkungan, biota/ekosistem, dan sosial ekonomi perlu dikaji secara holistis alih-alih parsial.

[1] http://rovicky.wordpress.com/2006/09/02/klh-harus-menkaji-ulang-pengertian-pencemaran-lingkungan/
[2] http://rovicky.wordpress.com/2006/09/02/klh-harus-menkaji-ulang-pengertian-pencemaran-lingkungan/#comment-1231

Sedikit tambahan, salah satu polutan yang dikeluarkan bersama ejekta (istilahnya betul tidak ya? maaf, bukan geolog) gunung berapi dan sering dijadikan contoh sebagai polutan alami adalah adalah emisi CO2. Namun demikian, ternyata emisinya jauh lebih kecil daripada emisi antropogenik (emisi CO2 dari aktivitas manusia).

3 Tanggapan so far »

  1. 1

    Rovicky said,

    ====
    Sedikit tambahan, salah satu polutan yang dikeluarkan bersama ejekta (istilahnya betul tidak ya? maaf, bukan geolog) gunung berapi dan sering dijadikan contoh sebagai polutan alami adalah adalah emisi CO2. Namun demikian, ternyata emisinya jauh lebih kecil daripada emisi antropogenik (emisi CO2 dari aktivitas manusia).
    ====

    Kalau bener yg anda tuliskan diatas, hal ini sangat menarik karena hingga saat ini emisi CO2 ini paling krusial secara global.
    Punya artikel ttg emisi CO2 yg lebih krn ulah manusia ini ?

    RDP

  2. 2

    obot said,

    Pak Rovicky, artikel emisi CO_2 antropogenik sangat banyak. Laporan ilmiah (baca: peer-reviewed) yang paling lengkap adalah IPCC report. Seingat saya IPCC report tersedia secara online (bisa dicari via google). di sana ada paparan mengenai efek letusan gunung Pinatubo terhadap perubahan iklim. Artikel (semi?) populer bisa dicari di http://realclimate.org

    Efek letusan Pinatubo antara lain mengurangi ‘radiative forcing’ hingga sekitar 3 W/m^2 sehingga efeknya adalah “pendinginan” (alih2 gas rumah kaca (GRK) yang umumnya meningkatkan ‘radiative forcing’). Catatan: efek letusan ini lebih dikarenakan oleh aerosol alih2 GRK (a.l. CO_2) dari letusan; perlu diperhatikan pula asumsi2 dalam menilai efek radiative forcing terhadap perubahan iklim. Sori kalau kalimatnya belibet😉

  3. 3

    grandiosa12 said,

    obot kirain ga punya blog.. di link yah blognya boleh kan.. 😉

    mengenai tanggapan saya untuk posting ini: its not going to be easy.. untuk kondisi ekosistem perairan setelah kena lumpur.. kayaknya bener2 dinomor tiga kan (atau 4, 5)….masih sahaja sekarang isunya seputar buat berhentiin itu lumpur.. dan mengatasi konflik dengan rakyat..

    tapi saya betul2 prihatin dengan nasib nelayan petambak petani.. saya juga punya berpikir sama dengan empirik thinking obot di atas..


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: