Bersama kita bi(na)sa!

Episode pagi hari

Jalanan menuju puncak gunung itu lengang. Tentu saja. Penjaga gerbang pun belum membuka portal, tapi aku menerobos melalui celah yang ada. Angin pagi pun menyapu wajah. Kencang. Jalan berlubang adalah musuh pantat yang menunggangi kuda besi ini. Sungguh kontras dengan cerita adikku, “Di sana (Jerman) sih, kalau pagi ada lubang, sorenya udah mulus lagi”.

Hutan campuran itu begitu menggoda. Angin dingin tiba-tiba menyergap. Khas pagi di gunung. Sejuk. Aku turun, dituntung oleh kicau burung pagi. Di balik tepian hutan aku mengejutkan sekeluarga pencari rumput yang sedang menikmati sarapan. “Punten”, sapaku. Setelah berbasa-basi, kupenuhi panggilan kicau burung.

Damn. I miss forest in the morning. Dua puluh menit sudah berlalu dari rencana kerja. Saatnya kembali ke tujuan semula. Hutan pinus. Keluarga itu telah menyelesaikan sarapannya, mereka mulai mencari rumput. Barulah kusadari, anak muda yang tadi kulihat ternyata masih bocah. Selamat tinggal sekolah. Sekolah gratis? Hanya ada di koran.

Episode menjelang siang

Mentari telah menggelincir dan menyengat wajah. Semakin banyak pencari rumput berkeliaran. Beberapa memandang aneh, bertanya dengan raut wajahnya apa yang sedang kulakukan. Berbasa-basi lagi.

Plot yang kurencanakan ternyata tidak memuaskan. Kuputuskan mencari plot yang lebih jauh. Sial. Kenapa saat aku pergi sendiri malah harus menjelajah terra incognita ini. Beruntung GPS berfungsi. Jalurnya tidak sulit. Hanya saja arah pandang yang tertutup rumput gajah setinggi dahi dan sangat rapat sedikit membuat frustasi mencari plot yang cocok. Dikejutkan laba-laba sebesar jempol. Laba-laba yang cantik. (dan menakutkan).

Episode tengah hari

Mega menggantung kelam. Namun kuperkirakan hujan belum segera turun. Plot yang menyenangkan. Inilah hutan pinus… hutan pinus tanpa rumput gajah setinggi gajah! Suasana sungguh magis. Namun tentu saja, masih ada pencari rumput di sana. Berbasa-basi lagi. Pencari rumput tua itu sangat tertarik dengan kegiatanku. Kujelaskan seperlunya.

Sibuk membor tanah. Pencari rumput lain datang dan mengobrol. Bercerita tentang harga minyak tanah. Dan tentu saja, kesulitan mendapatkannya. Meskipun tidak bisa dikatakan bahagia, aku tidak keberatan premium naik. Bahan bakar fosil memang mahal. Mahal pula dampaknya. Polusi. Bensin bertimbal yang menggasak sekian poin kecerdasan anak-anak.

Tapi sungguh aku terkejut kenaikan harga minyak tanah yang fantastis. Ibuku dulu sibuk mengantre minyak tanah. Apakah anakku nanti perlu sibuk mengantri bahan bakar juga?

Daya hidup mereka seakan dicekik. Untuk kemudian ditenggelamkan dalam minyak tanah yang tidak bisa dibeli. Bersama kita binasa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: