Membaca zaman

Sambil menunggu giliran cukur, saya ambil koran yang tergeletak di sana. Tidak ada berita menarik. Dalam arti, tidak ada kejutan yang membuncahkan rasa optimis bahwa Indonesia sedang bangkit. Tiba-tiba bapak yang duduk di sebelah saya bertanya, “*BBM tos naek deui*?” (BBM sudah naik lagi?).

Saya taksir usianya lebih dari 60 tahun, putih sudah mendominasi kepalanya. Tapi sorot matanya masih menunjukkan ketajaman. Saya cuma bisa menimpali dengan basa-basi dan bertanya balik (sambil menguji:) ), “*Teu acan, Pa. Kedah naek deui kitu*?” (Belum, Pak. Apa harus naik lagi?). Saya pikir beliau akan *ngomel* mengenai kesulitan hidup dan kebodohan pemimpin (seperti yang biasa saya lakukan di sini😉 ). Tetapi tidak. Beliau ternyata membaca zaman.

“*Nya, da kumaha atuh. Ari ayeuna harga per barrel di luar teh pan 60 dolar. Ari APBN di urang patokanna di 45 keneh*”. (Ya, ‘gimana dong. Sekarang harga minyak dunia 60 dolar per barrel. Tapi APBN kita masih mematok jauh di bawahnya).

Terus terang saya terkejut dengan jawaban tersebut. Cobalah tanyakan pertanyaan yang sama kepada pelajar SMU atau bahkan mahasiswa. Saya yakin lebih banyak yang tidak paham ketimbang yang paham (gitu lo). Saya pikir kenyataan ini cuma membuktikan bahwa retorika dan strategi reaktif yang diambil oleh pemimpin kita sudah terlihat nyata kebodohannya. Sangat terbaca. Bahkan oleh rakyatnya yang mungkin cuma lulus SMA.

Setengah tahun pasca tsunami, pembangunan apa yang dirasakan di ujung barat Indonesia sana? Mengatasi krisis energi, kebijakan apa yang dikeluarkan oleh Presiden? Ditempa kasus kekurangan gizi? Keluar ‘instruksi’. Coba bandingkan dengan kelompok yang memberikan bantuan berupa ayam (hidup) agar masyarakat dapat mendapatkan telur sebagai asupan nutrisi yang relatif berkelanjutan.

Sayang sekali, sebentar kemudian giliran kami sudah tiba dan kami tidak sempat berdiskusi lebih lanjut. Tapi sudah jelas, bahwa yang diinginkan rakyat adalah kebijakan yang bijaksana, bukan “instruksi” yang memberi ilusi bahwa pemerintah “sedang” bertindak. Dan beginilah saya mulai *ngomel* lagi, memang saya belum sebijak bapak tadi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: