aku cinta pemerintah indonesia

Di mana lagi kita bisa menemukan *reality show* jaka sembung bawa golok (*nggak nyambung gitu lo*) yang diperankan oleh para pejabat kalau bukan di Indonesia? Untuk memerangi penyalahgunaan NAZA, solusinya adalah mengirimkan pesan “Stop penyalahgunaan narkoba!”. Syukurlah Bapak Presiden tidak memiliki putra pecandu narkoba.. sehingga mungkin beliau tidak tahu apa penyebab seseorang menggunakan narkoba?

Baiklah, saya tidak berusaha sok tahu apa penyebabnya. Saya tidak punya data dan tidak pernah menelitinya. Mari kita berbaik sangka kepada beliau. Sebagai doktor alumnus IPB (*gitu lo*) tentunya beliau tahu kaidah menjawab pertanyaan yang *nyambung*. Sehingga mungkin beliau telah menemukan bahwa jika pecandu narkoba diberi perhatian maka mereka akan tobat sehingga mereka perlu diberi perhatian dengan layanan pesan singkat (SMS).

Ya betul juga sih, sepengamatan saya perhatian dan komunikasi berkaitan dengan kasus narkoba. Tanpa bermaksud menyepakati “kelancangan” pengiriman pesan singkat yang tidak diharapkan (*unsolicited*), alangkah baiknya jika pesan tersebut berisi ajakan yang lebih **nyata** seperti *have you hug your children today?*; atau *jangan lupa jemuran diangkat*😀 ; *matikan teve, bacalah buku dan buka kamus*; *hormati gurumu, sayangi teman, itulah namanya kau murid gaul (gitu lo)*; dst. Meminta perokok untuk berhenti merokok hanya akan berhasil jika mereka menemukan kenikmatan baru. Sehingga memang perokok harus dirayu dengan kenikmatan lainnya, bukan disuruh berhenti merokok. (Sepertinya) demikian pula dengan narkoba.

Jaka Sembung berikutnya adalah pemilihan Fauna Identitas Jawa Barat. Sebenarnya mudah ditebak bila yang diinginkan menjadi fauna kebanggaan adalah harimau karena secara historis Siliwangi identik dengan Harimau Lodaya (*Panthera tigris sondaicus*). Namun yang menjadi Jaka Sembung adalah **dasar** pemilihannya (*gitu lo*). Sejak tahun 2000(!) telah dilakukan perembukan untuk memilih dan akhirnya menghasilkan kandidat Surili, Owa Jawa, Elang Jawa, dan si Mbah (*lamun di leuweung pamali nyebat macan, biasana disebat Meong atawa Mbah*).

1. *Merupakan jenis asli yang hidup di Jawa Barat*. entahlah definisi asli itu apa? yang jelas para hewan itu tidak punya KTP JaBar😉 Mungkin maksudnya endemis?
2. *Memiliki nilai historis, budaya atau kekhasan pemanfaatan setempat*. Saya bukan ahli antropologi, tapi kira-kira yang tepat adalah *P.t. sondaicus* meskipun sudah punah
3. *Mempunyai tingkat kelangkaan* Apa itu “tingkat”? dan apa yang tidak langka sekarang?😦
4. *Penyebarannya terbatas (endemisitas)*. Tentu saja Surili. Dari namanya saja sudah sangat khas Jawa Barat. Yang lainnya “cuma” khas Jawa, bukan Jawa Barat.
5. *Berperan secara ekologis dalam ekosistem dan pelestariannya oleh masyarakat berimplikasi pada kualitas lingkungan.* Sejak kapan ada mahluk yang tidak memiliki peran ekologis? #-o *Dasar kufur ni’mat!*
6. *Dapat dibudidayakan atau dilindungi secara alami.* Apa maksudnya? Ingin satwa yang hidup bebas atau hewan ternak, sih?😦

Kalau saya jadi tim pemilih, maka finalisnya adalah *P.t. sondaicus* (meski sudah punah) dan *Presbytis comata* (Surili). Entah bagaimana caranya *P. pardus melas* (Leopard Jawa) bisa jadi juara.. Lagipula tidak tepat disebut macan tutul, karena *P.p. melas* yang berkulit legam (hitam, bukan coklat/kuning) umum terdapat di Jawa karena hidupnya di hutan (rapat) ketimbang saudaranya di Asia Selatan yang hidup di dareah lebih terbuka. Ini bisa menjadi masalah di lapangan ketika timbul interpretasi (*ngaco*), yang hitam *mah* nggak apa-apa ditembak, kalau yang tutul jangan. #-o

Ya.. saya tidak bisa menyalahkan “kejakasembungan” barusan, karena menyangkut “kebanggan” daerah. Tidak bisa menyalahkan pula keengganan bapak gubernur untuk memilih primata (Surili) yang dianggapnya memiliki konotasi buruk (sayangnya saya tidak menemukan artikel koran yang mengungkapkan keberatan bapa gubernur). Tapi cobalah kita melihat dari sudut lain…

Orangutan yang “asli” Sumatra dan “asli” Kalimantan, dengan senang hati diaku oleh Malaysia yang hanya memiliki secuplik bagian dari Kalimantan. Jika warga dunia mengingat Orangutan, yang diingat niscaya adalah Borneo dan Malaysia alih-alih Indonesia, padahal kita juga bisa mengakuinya. Apakah orang Malaysia itu lantas bertingkah atau berciri seperti Orangutan? Demikian pula dengan keris, anggrek, dan batik yang diaku oleh Singapura. *Hmm.. jadi pengen jalan-jalan cari Surili… untuk bilang: Kaciiiaaaan deh loe!*:(|)

4 Tanggapan so far »

  1. 1

    angga said,

    hehe..ade saya juga dikirimin sms..ibu saya mikirnya, gara-gara kemarin jadi murid teladan se-kecamatan. bapa saya (sambil becanda), curiga ade saya pengguna…saya mikirnya itu cuman sms iseng orang yang lagi kelebihan pulsa dan ga ada kerjaan……eh, ngga taunya PRESIDEN-RI !

    anyway, kalo flora identitasnya apa ya?

  2. 2

    piw said,

    heh itu sms beneran? katanya lagi harus berhemat ria. hemat pulsa juga dong kan linear ama hemat listrik buat nge cas HP😀 eh si pa presiden ga tau apa kalo pecandu narkoba pada ga punya HP karena udah pada dijual buat beli cimeng, pink lady dsj?😛 angga, flora jabar identitasnya pernah ada kandidat gandaria, tapi karena buahnya asem, jadi ga jadi kayanya, dengan alesan senasib dengan surili. ntah jadinya yang mana si flora teh, apakah angsana karena banyak di bandung? *ini gosip lama, aku ga tau kalo ada update-an terbaru :D* bot, aku jawab nomor 3 deh, yg ga langka di indonesia mah banyak: koruptor, pengangguran dan preman tentunya😀.

  3. 3

    izeng said,

    kalau dipikir-pikir, pemilihan seperti ini kan sebenernya pemaksaan. untung aja para taneman/hewan itu nggak ngerti tulisan/bahasa kita. coba kalau denger, dan mereka ketakutan, mereka mungkin akan pada pindah ke propinsi/daerah yang mengakuinya😀 (si taneman bakal gimana ya, apa seperti di film lord of the rings..heheheheh, bisa jalan).
    walaupun sebenernya sah-sah aja untuk bikin simbol-simbolan (dengan alasan pemilihan yang rasional – and not based on wangsit/idiocracy), harusnya pemilihan simbol ini menjadi media/sarana untuk perbaikan mutu lingkungan, pariwisata, pendidikan dll. cuma kadangkala para ‘bawahan’ tidak bisa mengejawantahkan apa arti dari kebijakan2… hmmmm, atau mungkin kebijakannya sendiri yang berdasarkan wangsit/idiocracy😦

  4. 4

    obot said,

    @izeng: yah begitulah republik kleptokrasi-idiokratik-irasional hedonesia. **bersama kita bi**na**sa!** (kata ikrar nusa bakti di kompas hari ini). pemimpinnya tidak cerdas –gue apalagi..😦


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: