Polusi

Polusi Solusi

Bosan rasanya baca berita hari ini, polusi di Bandung mengkhawatirkan rasanya sudah jadi wacana sejak SMA belum menjadi SMU. Masalah ini lumrah saja karena **daya dukung** Bandung memang tidak cukup untuk jadi pengungsian akhir minggu warga Jakarta. Kota yang sedianya adalah kota peristirahatan kecil, malah jadi salah satu kota terpadat di Indonesia. Tapi siapa pula yang sudi menampik gelimang rupiah dari ibukota?

Maka sudah saatnya Bandung bertanya pada diri sendiri. Mau jadi apa Bandung? Jadi *Mexico City van Java* atau mau jadi kota nyaman bermartabat? Rupiah memang tak perlu ditampik karena kita pun ingin kota yang berkembang dengan fasilitas umum baik dari pajak yang didapat. Siapa yang tidak ingin membayangkan dari Kopo ke Ledeng atau Cibeureum ke Cibiru menaiki kereta api bawah yang nyaman dan cepat? Siapa pula yang tidak ingin membayangkan adanya jalur trem antara alun-alun dan gasibu?

Kalau saya jadi Pa Dada, maka teh Keu adalah anak saya. Lho? Kalau saya jadi walikota Bandung, gagasan *ngaco* saya adalah membuat lapangan parkir bertingkat di gerbang kota. Untuk apa? Untuk menampung kendaraan dari luar kota pada akhir minggu. Kalau mereka ingin kendaraan dengan pelat luar Bandung masuk kota hari Jumat-Sabtu-Minggu, per kendaraan harus membayar bea masuk, katakanlah, Rp. 199.900,- saja. Tapi kalau ingin parkir, cukuplah membayar Rp. 49.000,- saja. Dari lapangan parkir raksasa tersebut –perusahaan Jepang mesti digandeng untuk hal ini, setahu saya mereka jagonya *nyimpen* kendaraan parkiran karena lahan di Jepun sempit– disediakan bus ulang-alik ke pusat kota, daerah wisata, dan pusat-pusat belanja.

Kendaraan asal Bandung adalah sumber masalah lain. Kendaraan yang tidak lolos uji emisi harus segera dibusek. Ini masalah komitmen. Karena sampai sekarang kita masih harus menghisap udara kotor dari bensin bertimbal –yang membuat kecerdasan anak-anak (*and sadly, me*) melorot sekian poin, maka hanya kendaraan yang lolos uji emisi yang boleh melaju. Oh, ya.. dan juga **emisi suara**! Selera musik saya mungkin tidak lazim, tapi saya paham betul suara yang dihasilkan knalpot bocor itu tidak syahdu di telinga. Harus dipikirkan pula cara untuk menjadikan sepeda menjadi alat transportasi utama.

Kalau angsa bertelur emas bisa bertelur sebutir sehari, jangan paksa ia bertelur 2 butir sehari. Bisa-bisa mati sebelum waktunya.. tidakkah lebih baik menjaga **keberlanjutan** dengan menjaga **daya dukung**? Saya tidak ingin kota ini *betulan* menjadi Mexico City van Java (maaf untuk walikota Mexico City) melainkan kembali jadi Parijs van Java.

4 Tanggapan so far »

  1. 1

    piw said,

    Botttt, kemaren aku RS dan tempat parkirnya bertingkat !! sugei (hebat) euy. yang horisontal cuman 2 tempat mobil, yang vertikal aku ga tau, ga aku itung, yang jelas tinggiiiii deh. pas kita masukin tiket parkir buat bayar, eh otomatis si mobil turun (dan gue masih wonder gimana bikin si mobil turun melewati mobil2 lain yang lagi parkir juga hehe). tentang polusi suara, hiks, kemaren itu di RS aku n temen2 nengok temen yang baru ngelahirin. tau sendiri lah si alif gandeng wae, pake bahasa bayi. anak2 balita lain juga sama aja. si suster udah bolak balik nyuruh anak2 diem, lha mana berhasil. akhirnya si suster bilang ke temenku yang baru ngelahirin itu gini: *tamu anda sangat mengganggu, silahkan suruh segera pulang*. untung aku udah turun duluan, jadi ga ikutan panas hate dengernya. hehe. di sini tak ada yang berani ribut2 di tempat umum. tetangga sebelah mau menggali tanah aja minta ijin sana sini kalo mo bikin ribut.

  2. 2

    agus said,

    mau sedikit ikutan komentar, sewaktu saya mengambil mata kuliah cekungan bandung, dosen saya Dr.Budi Brahmantyo pernah menjelaskan bahwa daerah bandung meruapakan bentukan cekungan sisa danau bandung yang telah mengering. Morfologi yang berupa cekungan ini menyebabkan sirkulasi udara akan tertahan di cekungan bandung, hal ini dapat kita lihat dari Fog ( kabut asap ) yang dapat kita lihat dari daerah tinggian bandung misalnya cisarua atau gunung batu lembang, dimana seakan akan bandung selalu ditutupi kabut. Kanut tersebut merupakan cerminan dari udara hasil emisi /polusi/ apun itu tapi jelas-jelas bukan kabut yang ada di pagi hari. kabut ini menghilang pada malam hari akibat tersapu angin yang bergerak dari atas gunung/ tinggian di utara bandung.

    jadi kayanya kalau hanya membatasi orang jakarta dan bikin lahan parkir kayanya gak cukup deh pak, karena sadar atau tidak sadar bahwa udara yang kita hurup terutama pada siang hari tidak cukup baik. Mungkin salah satu upaya yang bisa kita lakukan adalah mengurangi penggunaan bahan bakar ( Berbicara tentang penggunaan kendaraan), mulai berpikir pada saat kita membakar sampah???( apa bisa kita mulai bikin kompos ) tanpa membakar. Jadi mungkin kita harus mulai mikir apa yang kita bsa lakukan secara pribadi.

  3. 3

    rosadadada said,

    Ass. Wr. Wb.,

    Mohon doa restunya..

    No1 Dada Rosada-Ayi Vivananda

    Pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Bandung 2008-2013

    Wass. Wr. Wb.

  4. 4

    obot said,

    Halah.. malah kampanye di sini😛 Padahal saya pan golput😛

    Ayo dong tertibkan dulu lalulintas di Bandung yang makin semrawut, bereskan tata ruang Bandung Utara, baru minta doa restu😉


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: