MERUBETIRI: Naik kereta api… tuut..tuut..tuut.. (Bag. I)

**29 November 2004**
Meskipun didaulat untuk datang di stasiun Kiaracondong untuk datang jam 05.00, aku baru pergi dari rumah jam 5 kurang. Walaupun sebenarnya sudah bangun sejak jam 4 tetapi badan masih terasa penat setelah hari-hari sebelumnya dipenuhi berbagai aktivitas dan berusaha mengejar tenggat proposal *grant*. Walau nggak enak hati karena telat, aku tidak begitu khawatir karena jadwal keberangkatan masih cukup lama.

Diantar oleh adikku, setiba di Kircon seluruh barang untuk kerja di lapangan rupanya telah diangkut ke gerbong, termasuk juga praktikan telah berbaris rapi di depan gerbong. Aku mulai menyibukkan diri mengurusi kelancaran gerbong. KS (Kepala Stasiun) belum terlihat, aku ingin pamit sebelum berangkat agar seluruh urusan lancar. Tidak lama kemudian KS datang menemui di dekat gerbong, sempat berbincang sedikit dan diingatkan agar tidak lupa untuk memberikan surat pengantar ke KS Gubeng di Surabaya. Oke, Pak!

Kami menyewa satu gerbong kelas III dari kereta ekpres [yang tidak ekspres=/] Pasundan jurusan Surabaya yang akan diteruskan dengan perjalanan naik bis ke Sarongan (Banyuwangi, Jember Selatan). Dari sana perjalanan dilanjutkan dengan tiga buah truk menuju pantai Sukamade di Taman Nasional Meru Betiri. Di sana kami akan melakukan kuliah lapangan Proyek Ekologi selama empat hari.


Ternyata, di dekat gerbong juga ada orangtua Dian yang ternyata merupakan kolega dari kakekku di Perumka (dulu PJKA). *Small world*🙂 KS mengingatkan untuk segera masuk gerbong karena sudah mendekati jadwal keberangkatan. Namun ternyata kemudian kereta bertolak agak terlambat. Diiringi dengan doa kami pun menuju Surabaya.

*Uno!*
Perjalanan terasa lambat. Kereta beberapa kali terhenti. Setelah bosan duduk di *bordes* (sambungan kereta) bersama Ucup dan Andi kami pun mulai makan pagi. Setelah *nggosip* sebentar dengan Bu Endah & Pak Gede, di bordes belakang ternyata ada Syal yang sedang mengganyang perbekalan makanan kecil yang b*ua*nyak sekali. Hari ini aku baru sadar entah bagaimana makanan sebanyak itu akhirnya habis. Semoga tidak dihabiskan seorang diri olehnya😛

Siang menjelang. Gerbong mulai panas. Yang tidak terduga adalah aku akhirnya menemukan permainan kartu jaman di himpunan dulu. [Uno](http://www.matteluno.com “mattel”)! Rini membawa kartu itu dan tentu saja aku langsung bergabung🙂 Sepanjang perjalanan Pak Gede tampak sesekali memperhatikan dan bertanya tentang peraturan mainnya. Beliau mengatakan dirinya tidak terlalu suka dengan permainan (kartu, layangan, dll.), namun di akhir perjalanan akhirnya beliau gatal untuk bergabung dan ketagihan main :))

Sesampai di Yogya kereta berhenti agak lama, beberapa asisten membantu untuk mengangkut makanan yang dipesan di sana. Aku bergegas menuju kantor stasiun meminta tambahan air untuk toilet. Proses penambahan air berlangsung agak lama, banyak yang sempat menggunakan toilet di stasiun —yang tentu lebih nyaman dibandingkan dengan yang tersedia di gerbong; dan berbelanja. Pak Gede membeli dan membagikan sate, dasar maniak uno, sate itu akhirnya menjadi hadiah untuk yang menang:yummy:

Memasuki Jawa Timur suasana mulai gelap, lampu di gerbong hanya sempat menyala beberapa saat untuk kemudian padam selamanya😦 Tipikal kereta kelas ekonomi yang sudah kami maklumi. Untuk itu kami sudah siap sedia dengan peralatan penerangan. Dalam temaram kami makan malam sambil berharap perjalanan tetap lancar menuju Surabaya. Kereta cukup sering berhenti untuk memberi kesempatan kereta dengan kasta yang lebih tinggi untuk lewat terlebih dahulu.

*Gubeng–Sarongan*
Akhirnya kami terlambat memasuki stasiun Gubeng. Dari perkiraan tiba jam 22.00, meleset hingga lewat tengah malam. Aku mulai cemas dengan jadwal keesokan harinya. Dua bis AC ekonomi yang kami tumpangi agak kecil dan sesak oleh barang. Kursi yang ada cukup sempit sehingga Indri yang duduk di sebelahku sempat jatuh ke gang ketika terlelap:)) Benarlah, bis yang kami tumpangi baru tiba di sekitar Jember waktu subuh. Dalam perjalanan menuju Jajag, bis yang lain sempat mogok. Sesampai di Jajag, kami bertemu dengan mobil trooper jurusan yang akan menjadi penunjuk jalan menuju Sarongan. Namun tetap saja kami tersasar karena Yaya, penunjuk arah di trooper, luput mencatat satu persimpangan. Belakangan kami mentertawakan kebodohan kami karena perangkat GPS yang dibawa malah tidak dimanfaatkan :sorry:.

*Sarongan–Sukamade*
Cobaan belum berakhir. Sarapan disediakan di Sukamade, sementara kami baru tiba di Sarongan menjelang tengah hari. Awan gelap menggantung di Selatan. Menilik angin dan awan hujan, aku memperkirakan perjalanan ke Sukamade akan diiringi dengan hujan. Maka terjadilah. Segera setelah kami berangkat hujan mulai mengguyur. Aku menempati truk ketiga. Di belakang truk trooper mengawal kami. Karena tim dokumentasi berada di trooper, kamilah yang paling banyak diliput, terlebih aku yang duduk dekat pintu belakang :))

Walau dihujani air, kami tidak terlalu berkeberatan. Selain karena belum mandi >=24 jam😆, inilah *tropical rain forest*! Rasanya tidak sah bertandang ke hutan tropis tanpa merasakan kehadiran hujan. Perjalanan cukup menyenangkan walaupun jalur yang dilewati cukup buruk. Buruknya jalan tetap disyukuri karena kemudahan akses ke kawasan hanya mempermudah para penjarah hutan berkeliaran. Hiburan sepanjang jalan cukup menarik, ada lutung, kangkareng, vegetasi yang menarik, srigunting. Meski harus kebasahan dan terguncang-guncang dalam truk, praktikan tampak cukup terkesan dengan suguhan flora & fauna yang ada walaupun kami belum terlalu jauh masuk ke kawasan.

Supir truk ketiga rupanya cukup terampil dan berjiwa *off-road*. Pada suatu pertigaan kami dibawa ke jalur kiri yang menurut kernet truk merupakan jalur pintas namum melewati sungai yang cukup tinggi muka airnya. Perjalanan menjadi mendebarkan sebelum memasuki air, namun setelah itu perjalanan bertambah menyenangkan karena kernet membawakan kakao yang memang tumbuh di enklave TNMB. Setelah dipecah, daging buah yang menyelimuti biji cukup enak untuk dimakan. Biji di dalamnyalah yang akan diproses menjadi coklat yang kita nikmati. Tak lama kemudian hujan mulai reda dan kami pun tiba di Sukamade. Kondisi wisma yang ada cukup baik. Suasana cukup menyenangkan. Sementara yang lain membereskan peralatan, aku dan Dian memutuskan untuk melakukan *reconnaissance*.
(bersambung…)

– galeri foto dan sambungan cerita menyusul…

1 Response so far »

  1. 1

    piw said,

    :9 bagian dua na mana ieu teh?


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: