Pertama

sedih juga nih server suka pingsan (maklum gratisan), untung sudah siuman🙂

Beberapa jam lagi bangsa ini akan memilih presiden secara langsung untuk pertama kalinya, namun aku masih belum mantap memilih. Konsultasi kepadaNya sudah dilaksanakan, namun jawaban tak kunjung datang. Mungkin juga pikiranku sudah terlampau bising sehingga tidak mampu mendengar jawabannya.

Hidup adalah soal memilih. Hal tersebut sudah diyakini sejak lama. Bahkan ada dalil untuk memilih yang terbaik dan jika tidak dapat memilih, jangan tinggalkan keduanya, pilihlah yang kerugiannya lebih sedikit (mohon koreksi). Lalu apakah tidak memilh juga merupakan pilihan?

Beberapa pihak mengartikan dalil tersebut secara literal sehingga menyatakan tidak memilih itu dilarang. Maka sungguh mengejutkan, saat ceramah jumat minggu kemarin, khatib mengisyaratkan bahwa kedua kandidat tidak layak untuk dipilih! dari segala ucapannya cukup mudah untuk mengambil kesimpulan bahwa dia akan memilih untuk tidak memilih.

Mungkin, makna ”jangan tinggalkan keduanya” pada dasarnya bernuansa metaforis untuk menghindari berputus asa dalam berusaha karena selalu ada pilihan —termasuk untuk tidak memilih. Karena jika kita melihat dunia ini tidak dengan otak belaka, seringkali kita menemukan bahwa dunia ini ternyata tidak hitam dan putih saja. Dengan demikian, pilihan tersebut tidak (selalu) bisa direduksi menjadi dua pilihan saja.

Melalui pemikiran tersebut, aku memandang golput adalah suatu pilihan. Tentu tidak memilih disini bukan tidak memilih karena kepasifan, melainkan tidak memilih dan tetap berusaha aktif “membangun umat manusia” dengan segenap usaha kita. Gus Dur juga punya pendapat yang kurang lebih sama:

“… selain itu netral itu harus melakukan sesuatu yang aktif, bukan pasif,”

Apakah aku akan golput? mungkin tidak… rahasia dong😉 Hey, rasanya jawaban atas pertanyaanku mulai terdengar🙂

Terus terang aku prihatin saat mendengar komentar temanku terhadap orang yang memilih golput. dibilang apatis-lah, tidak bertanggungjawab-lah, dll.. Aku rasa kebiasaan buruk memberi label ini perlu dihentikan. Karena selain tidak produktif hanya akan menimbulkan perpecahan. Demikian pula kebodohan-kebodohan lain yang sering kita lakukan juga perlu kita hentikan. Karena siapapun presidennya, hedonesia tidak akan menjadi Indonesia yang maju tanpa rakyatnya. Rakyat yang cerdas, kuat, dan humanis. Amien..
(tentu saja slogan itu nggak bakal laku, yang laku itu: sejahtera, sejahtera & sejahtera😦 )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: