kehilangan..

Ugh. Sepertinya saya akan kehilangan satu distro favorit :( Sudah lama tidak dimutakhirkan dan kini salah satu kontributor besarnya mundur. Meski bukan tergolong jemaah gereja emacs (yay for vim!) saya adalah fansnya kyai Stallman alias Santo iGNUcius (j/k) ;) Untuk itu distro GNU/Linux yang bebas adalah jalan hidup yang harus ditempuh. hehehe serius amat.

Kanotix menjadi favorit karena pada dasarnya dia adalah Debian Sid, alih-alih hasil modifikasi, koreksi, maksudnya menggunakan repositori yang berbeda, seperti distroyangtidakperludisebutnamanya. Seperti knoppix, satu cakram optisnya bisa menjadi CD hidup dan juga bisa diinstal dengan baik dan mudah. Tapi saya lebih suka dengan pilihan paket dan tataletak kanotix. Bagi orang pemalas seperti saya, ini artinya kehilangan cara instalasi desktop yang singkat dan jitu (<20 menit! lengkap dengan X dan aplikasi desktop yang sering dipakai. beat that, vista! :P ). Terimakasih banyak buat lh atas jasanya selama ini.

Tapi kalau melihat perkembangan d-i sepertinya saya tidak terlalu banyak kehilangan ;) Tampaknya etch akan menjadi rilis Debian  yang sangat tangguh. Oiya, sebetulnya ada fork (kalau boleh dibilang sebagai fork) kanotix, yaitu sidux. Sehingga kita bisa hidup dengan paket paling mutakhir (sid) tapi ada dukungan untuk kestabilan. Walaupun begitu, saya ragu akan menggunakan sidux, tampaknya satu DVD etch cukup memenuhi kebutuhan. Sudah lebih enam tahun saya pakai linux (padahal saya bukan “orang IT”), dan boleh saya bilang bohong besar (FUD) kalau pak mentri bilang dukungan drivernya merepotkan. Perkembangan linux sangat menggembirakan. Dan etch (walaupun masih RC) adalah buktinya. Jadi pada akhirnya, saya tidak terlalu kehilangan :)

dimutakhirkan (20070118): menambah taut, klarifikasi, dan  menambah kalimat pada paragraf akhir

Komentar (3) »

Poligini

Hehehe.. tentu ini terinspirasi dari Aa Gym yang baru saja mengklarifikasi dirinya kawin (eh, nikah ya?) lagi.

Tapi saya enggak mau menggunjing tentang dai kondang itu sih. Cuma mau meninjau perilaku kawin di dunia hewan. Ternyata.. kasus poligini (satu jantan banyak betina) ini umum sekali ditemukan pada keluarga hewan menyusu alias mamalia.. termasuk pada kera bipedal berbudi luhur (dan bisa menahan nafsu? :P ).

Lain halnya di keluarga burung. Umumnya burung melakukan praktik monogami dan kedua induknya berpartisipasi dalam pengasuhan anak. Kenapa? Karena kesintasan (survival) anak burung bergantung pada ketersedian makanan yang disediakan oleh induknya. Terutama untuk jenis burung yang anaknya lahir tak berdaya (belum berbulu, enggak bisa berdiri tegak. Kalau anak gajah kan bisa langsung berjalan). Dengan mengasuh anak berdua, kelangsungan hidup anak mereka lebih terjamin :) Nah, andaikan si anak sudah bisa sedikit mandiri, dan si anak bisa bertahan dengan asupan makanan dari satu induk saja, biasanya yang meneruskan pengasuhan adalah induk betinanya. Si jantan melenggang entah ke mana. Dasar lelaki! :P

Kejadian kaburnya si lelaki ini ternyata bukan cuma ada di buku, karena pernah saya amati juga pada burung Serak (Tyto alba) atau secara umum biasa disebut sebagai burung hantu. Setelah si anak sudah cukup besar, bulunya sudah tumbuh hampir sempurna, yang masih setia memberi makan atau menunggui sarang adalah emaknya.

Tapi ada juga sih burung yang poligini. Biasanya terjadi kalau jumlah makanan tersedia banyak sehingga si jantan bisa ngider tanpa harus khawatir anaknya bakal kelaparan dan mati. Betinanya tetap sulit cari TTM karena harus mengurusi telur. Jadi enggak heran kalau pasangan hewan yang sederhana dan tidak berlimpah harta, eh, makanan biasanya enggak mau banyak tingkah supaya anaknya tetap sintas.

Balik lagi ke mamalia, betinanya lebih sengsara lagi. Selain harus mengandung sekian lama, anaknya mesti menyusu pula pada dirinya. Jelaslah selama si betina mengandung dan menyusui itu sang jantan bebas kelayapan. Dasar lelaki! :P

Jelaslah benang merah di dunia burung dan mamalia adalah upaya mereka menghasilkan keturunan dengan baik. Kalau bisa diurus sendiri, ya sendiri. Kalau tidak bisa, ya berdua. Sekarang bagaimana dengan bayi manusia? Biarpun belum beranak, saya yakin bahwa keberadaan figur orangtua (ibu dan bapak) sangat penting bagi perkembangan anak. Tidakkah penting mensejahterakan anak? Mengurus satu anak di jaman yang pelik ini tentu membutuhkan alokasi waktu yang lebih besar dari masa sebelumnya. Jadi kalau ada Homo sapiens di masa ini ingin poligami, eh, poligini (poligami itu bisa poligini atau poliandri), mungkin mereka memiliki strategi hebat dalam manajemen waktu atau anak super yang bisa hidup dengan interaksi orangtua-anak minimal. Bless them and their child!

Komentar (3) »

senin atau selasa?

Senin atau selasa? Itu pertanyaan yang sedang sering mengundang jawab saat ini. Saya enggak ingin menganalisis macam-macam, tapi ingin memberikan visualisasi kejadian yang sedang dipertanyakan ini (kejadian macam ini pernah saya ulas juga di blog lama saya).

Exhibit #1:

Ahad, 22 Okt

Di atas bisa kita lihat bulan masih berada pada ketinggian yang rendah (entah berapa ukurannya). Secara “tradisional” sih kita memasuki bulan baru ketika kita bisa melihat bulan baru (d’oh). Sekarang pertanyaannya menjadi, pada saat bulan dihitung telah berada di atas ufuk ketika matahari terbenam (dan divisualisasikan dalam citra di atas), bisakah kita melihat si bulan dengan mata telanjang (rukyat)?
Exhibit #2:

Senin, 23 Okt

Perbedaan pendapat macam di atas tidak akan terjadi kalau menjelang hari ke-29 posisi bulan sudah jauh di atas ufuk seperti yang terjadi pada gambar berikutnya. Gambar ke dua adalah visualisasi posisi bulan pada hari Senin magrib. Tidak akan ada orang yang protes bulan hasil hitungan tidak bisa dilihat dengan mata.

Jadi senin atau selasa? Jawaban saya sih, kenapa tidak kita serahkan saja pada pemerintah? Buat saya ada masalah yang lebih penting dari ’senin atau selasa’. Kenapa kita tidak pernah meributkan kenapa justru saat bulan puasa lalu lintas cenderung bertambah macet? Kenapa orang-orang cenderung tidak sabaran di jalan? (apalagi menjelang waktu berbuka) Kenapa ada kecenderungan untuk konsumtif?

Kalau kata Joe Mullaly si salesman komputer: I judge a religion as being good or bad based on whether its adherents become better people as a result of practicing it.

Selamat berlebaran bagi yang merayakan, saya mohonkan maaf yang tulus jika ada kesalahan saya dalam tulisan atau perbuatan yang membuat rekan-rekan sekalian tidak berkenan.

Komentar (2) »

Spa

Spa lumpur Bakrie di Sidoarjo rupanya masih menimbulkan kericuhan. Akademisi sibuk menganalisis, politisi sibuk mencari kambing hitam, para korban masih mengungsi dan menjadi korban, sementara yang bertanggungjawab belum bertanggungjawab. Salah satu tulisan terakhir yang saya baca dari blog ini [1] juga  belum menunjukkan titik cerah.

Dikatakan bahwa pengertian pencemaran lingkungan harus diubah karena lumpur di spa Bakrie tersebut ternyata tidak ditemukan zat berbahaya. Memang betul. Tidak ada Hg (air raksa) seperti yang digosipkan (kalaupun ada, menurut tulisan tersebut jumlahnya tidak signifikan). Tapi apakah berarti tidak ada terjadi dampak terhadap lingkungan?

Saya menyepakati bahwa tidak perlu membuat susah urusan yang sudah ruwet. Turut prihatin pula mendengar selentingan bahwa ada oknum LH yang suka mempersulit pengurusan dokumen AMDAL bagi berbagai proyek. Tidak perlu juga membuat ketakutan akan dampak lingkungan tanpa dasar ilmiah. Namun yang perlu kita cermati adalah walaupun tidak ada polutan berbahaya (ambil contoh, logam berat) tidak lantas berati tidak ada dampaknya terhadap lingkungan!

Yang saya sebut dampak di sini adalah kerugian bagi ekosistem termasuk manusia sebagai penghuninya (utamanya dampak ekonomi). Sependek pengetahuan saya, itulah pencemaran. Terjadinya gangguan atau kerugian baik oleh proses alami ataupun non-alami. Lumpur dari Spa Bakrie boleh jadi memang alami. Akan tetapi prosesnya terjadi relatif lambat sehingga daya lenting (resilience) ekosistem relatif tidak terganggu pula. Tentu saja kejadiannya bisa lain apabila kita melakukan percepatan proses  dengan mengalirkan materi lumpur ke laut dengan pipa. Oleh karena itu yang perlu dikaji adalah seberapa besar percepatan proses yang dilakukan dengan pengaliran lumpur tersebut ke Selat Madura? Lalu berapa besar dampak dari proses tersebut terhadap ekosistem (dan manusia)? Bagaimana mengatasi dampak tersebut?

Walaupun materialnya dinyatakan tidak berbahaya secara kimiawi, sifat fisik dari lumpur dapat berbahaya bagi ekosistem. Masukan materi lumpur dapat meningkatkan paramater partikel padat tersuspensi (Total Suspended Solid –TSS) dalam air. Parameter ini adalah salah satu parameter yang dapat menentukan kelulushidupan kehidupan biota akuatik dan pada akhirnya keberlanjutan ekosistem. Mengapa? Seperti yang telah disebutkan dalam salah satu komentar dalam blog tersebut [2], lumpur dapat menghalangi sinar matahari yang masuk ke dalam badan perairan.

Saya bukan ahli perairan, akan tetapi secara empiris salah satu kemungkinan skenario yang terjadi adalah TSS naik -> perairan keruh -> fotosintesis terganggu -> produktivitas biota akuatik terganggu -> tingkatan trofik di atasnya ikut terganggu -> jejaring makanan akuatik terganggu (kehilangan ikan dan hasil laut lainnya). Tentu saja yang paling terganggu secara ekonomis adalah nelayan dan penambak. Maka perlu dikaji berapa besar dan berapa lama lumpur akan mengganggu parameter fisikokimia perairan? Berapa besar dampak perubahan fisikokimia tersebut terhadap ekosistem? Bagaimana menanggulangi dampak ekonomi yang dapat terjadi pada nelayan dan penambak di selat Madura? Dampak sosial?

Secara geologis lumpurnya memang alami. Akan tetapi yang kita pertaruhkan adalah persoalan lingkungan sehingga dampak aktivitas manusia (dalam kasus ini: meningkatkan masukan lumpur ke selat Madura) terhadap fisika-kimia lingkungan, biota/ekosistem, dan sosial ekonomi perlu dikaji secara holistis alih-alih parsial.

[1] http://rovicky.wordpress.com/2006/09/02/klh-harus-menkaji-ulang-pengertian-pencemaran-lingkungan/
[2] http://rovicky.wordpress.com/2006/09/02/klh-harus-menkaji-ulang-pengertian-pencemaran-lingkungan/#comment-1231

Sedikit tambahan, salah satu polutan yang dikeluarkan bersama ejekta (istilahnya betul tidak ya? maaf, bukan geolog) gunung berapi dan sering dijadikan contoh sebagai polutan alami adalah adalah emisi CO2. Namun demikian, ternyata emisinya jauh lebih kecil daripada emisi antropogenik (emisi CO2 dari aktivitas manusia).

Komentar (3) »

Merdeka!

Dirgahayu Indonesiaku!

Syukurlah kali ini saya tidak, ahem, “dijajah” oleh paskibra ;) . Biarlah sahaya memperingati hari jadi republik ini dengan cara sahaya sendiri. Bukan dengan cara meminta-minta di pinggir jalan, bukan dengan berbaris pagi-pagi, bukan dengan itu. Tahun lalu sahaya memeringatinya dengan nonton Dr. Zhivago (cerita revolusi Rusia yang menarik. Pun di sana sahaya menemukan bahwa sahaya menyukai serenada dari Schubert. Sialnya sepertinya sahaya tidak akan pernah sempat membaca buku Pasternak yang setebal bantal itu), membaca ulang animal farm-nya Orwell, dan lainnya.

Dan ada satu tulisan.. yang selalu sahaya baca ulang setiap 17 Agustus. Hampir seperti ritual. Sebuah tulisan dari salah satu orang yang sahaya kagumi.Tulisan apa sih? baca saja sendiri :)

Komentar bertahan »

mei, juni, juli

selama itulah blog ini tidak diisi.. walaupun banyak kejadian ‘besar’ namun apa daya waktu tak ada. tapi beberapa goresan jalan hidup ada di http://forum.biophilia.or.id

Komentar (1) »

daya

Di tulisan sebelumnya sudah saya ceritakan hati ini berkeping merasa kehilangan Pak Pram. Kandas sudah cita-cita berjumpa dengannya. Selepas hari jadinya beberapa bulan silam saya sudah merasa harus segera merealisasikan cita-cita tersebut. Cymbidium bicolorTapi apa daya… Seperti juga keinginan menonton Nirvana secara live, hilang sudah kesempatan tersebut. Tapi setidaknya ada satu hal yang bisa saya lakukan, melanjutkan semangat dan kecintaan Pak Pram pada nusantara.. 

Komentar (2) »

hancur hatiku mengenang dikau..

berkeping-keping jadinya... ’cause.. I’m in the middle of re-reading Bumi Manusia when I heard this.. :(

Komentar (2) »

disleksia

entah salah baca entah terlalu banyak angka stok karbon yang berputar di kepala aku ingatnya jadwal seminar itu jam 11. sebagai manusia baik hati (hehe), walau baru jam 10 lewat sedikit aku ke ruangan seminar siapa tahu yang mau seminar perlu bantuan set proyektor dll. but oh sh*t!!! dari jendela kuintip kok sudah banyak orang? kurogoh ponsel dan lihat jam menunjukkan 10:05, wah, salah lihat jadwal jadi telat lima menit nih! cuek deh, walau pasti diomelin nggak tepat waktu. pas masuk, kenapa pemirsa senyum-senyum? lo, kenapa yang mau seminar kok duduk sebagai pemirsa? oh, ternyata ada presentasi lain. sial, ternyata ada seminar jam 9. hiks… sudah tengsin berat dan kesal, host seminar tidak melewatkan kesempatan untuk menyindir, “kalau seminar jam 9 datanglah jam 9, jangan jam 10″. yee, namanya juga silap. sudah kubilang salah jadwal tapi nggak percaya. ya sudahlah.. my bad. mau bilang apa lagi coba?

begitulah.. niat baik tidak selamanya tampak baik di mata orang. so don’t judge before you know the fact! ah, fakta.. apa artinya di jaman edan saat orang lebih suka mengumbar emosi ketimbang berkepala dingin. but, let’s be good anyway!

(baru sadar tanggalnya 13 –emangnya ngaruh ya? hehe)

Komentar (1) »

gue *nggak* aneh :P


You Are 40% Weird


Normal enough to know that you’re weird…
But too damn weird to do anything about it!

Komentar (2) »