Arsip untuk Desember, 2006

kehilangan..

Ugh. Sepertinya saya akan kehilangan satu distro favorit :( Sudah lama tidak dimutakhirkan dan kini salah satu kontributor besarnya mundur. Meski bukan tergolong jemaah gereja emacs (yay for vim!) saya adalah fansnya kyai Stallman alias Santo iGNUcius (j/k) ;) Untuk itu distro GNU/Linux yang bebas adalah jalan hidup yang harus ditempuh. hehehe serius amat.

Kanotix menjadi favorit karena pada dasarnya dia adalah Debian Sid, alih-alih hasil modifikasi, koreksi, maksudnya menggunakan repositori yang berbeda, seperti distroyangtidakperludisebutnamanya. Seperti knoppix, satu cakram optisnya bisa menjadi CD hidup dan juga bisa diinstal dengan baik dan mudah. Tapi saya lebih suka dengan pilihan paket dan tataletak kanotix. Bagi orang pemalas seperti saya, ini artinya kehilangan cara instalasi desktop yang singkat dan jitu (<20 menit! lengkap dengan X dan aplikasi desktop yang sering dipakai. beat that, vista! :P ). Terimakasih banyak buat lh atas jasanya selama ini.

Tapi kalau melihat perkembangan d-i sepertinya saya tidak terlalu banyak kehilangan ;) Tampaknya etch akan menjadi rilis Debian  yang sangat tangguh. Oiya, sebetulnya ada fork (kalau boleh dibilang sebagai fork) kanotix, yaitu sidux. Sehingga kita bisa hidup dengan paket paling mutakhir (sid) tapi ada dukungan untuk kestabilan. Walaupun begitu, saya ragu akan menggunakan sidux, tampaknya satu DVD etch cukup memenuhi kebutuhan. Sudah lebih enam tahun saya pakai linux (padahal saya bukan “orang IT”), dan boleh saya bilang bohong besar (FUD) kalau pak mentri bilang dukungan drivernya merepotkan. Perkembangan linux sangat menggembirakan. Dan etch (walaupun masih RC) adalah buktinya. Jadi pada akhirnya, saya tidak terlalu kehilangan :)

dimutakhirkan (20070118): menambah taut, klarifikasi, dan  menambah kalimat pada paragraf akhir

Komentar (3) »

Poligini

Hehehe.. tentu ini terinspirasi dari Aa Gym yang baru saja mengklarifikasi dirinya kawin (eh, nikah ya?) lagi.

Tapi saya enggak mau menggunjing tentang dai kondang itu sih. Cuma mau meninjau perilaku kawin di dunia hewan. Ternyata.. kasus poligini (satu jantan banyak betina) ini umum sekali ditemukan pada keluarga hewan menyusu alias mamalia.. termasuk pada kera bipedal berbudi luhur (dan bisa menahan nafsu? :P ).

Lain halnya di keluarga burung. Umumnya burung melakukan praktik monogami dan kedua induknya berpartisipasi dalam pengasuhan anak. Kenapa? Karena kesintasan (survival) anak burung bergantung pada ketersedian makanan yang disediakan oleh induknya. Terutama untuk jenis burung yang anaknya lahir tak berdaya (belum berbulu, enggak bisa berdiri tegak. Kalau anak gajah kan bisa langsung berjalan). Dengan mengasuh anak berdua, kelangsungan hidup anak mereka lebih terjamin :) Nah, andaikan si anak sudah bisa sedikit mandiri, dan si anak bisa bertahan dengan asupan makanan dari satu induk saja, biasanya yang meneruskan pengasuhan adalah induk betinanya. Si jantan melenggang entah ke mana. Dasar lelaki! :P

Kejadian kaburnya si lelaki ini ternyata bukan cuma ada di buku, karena pernah saya amati juga pada burung Serak (Tyto alba) atau secara umum biasa disebut sebagai burung hantu. Setelah si anak sudah cukup besar, bulunya sudah tumbuh hampir sempurna, yang masih setia memberi makan atau menunggui sarang adalah emaknya.

Tapi ada juga sih burung yang poligini. Biasanya terjadi kalau jumlah makanan tersedia banyak sehingga si jantan bisa ngider tanpa harus khawatir anaknya bakal kelaparan dan mati. Betinanya tetap sulit cari TTM karena harus mengurusi telur. Jadi enggak heran kalau pasangan hewan yang sederhana dan tidak berlimpah harta, eh, makanan biasanya enggak mau banyak tingkah supaya anaknya tetap sintas.

Balik lagi ke mamalia, betinanya lebih sengsara lagi. Selain harus mengandung sekian lama, anaknya mesti menyusu pula pada dirinya. Jelaslah selama si betina mengandung dan menyusui itu sang jantan bebas kelayapan. Dasar lelaki! :P

Jelaslah benang merah di dunia burung dan mamalia adalah upaya mereka menghasilkan keturunan dengan baik. Kalau bisa diurus sendiri, ya sendiri. Kalau tidak bisa, ya berdua. Sekarang bagaimana dengan bayi manusia? Biarpun belum beranak, saya yakin bahwa keberadaan figur orangtua (ibu dan bapak) sangat penting bagi perkembangan anak. Tidakkah penting mensejahterakan anak? Mengurus satu anak di jaman yang pelik ini tentu membutuhkan alokasi waktu yang lebih besar dari masa sebelumnya. Jadi kalau ada Homo sapiens di masa ini ingin poligami, eh, poligini (poligami itu bisa poligini atau poliandri), mungkin mereka memiliki strategi hebat dalam manajemen waktu atau anak super yang bisa hidup dengan interaksi orangtua-anak minimal. Bless them and their child!

Komentar (3) »