Maret 29, 2006
· Disimpan dalam enggak penting
Dalam beberapa hari saja, belasan pesan singkat semacam itu mampir di ponsel. Beberapa varian yang lebih menggoda: "Malem say, dah makan belum?". Ah, tapi tidak satupun yang membuat gue sudi membalasnya.
Salah sambung telepon bukan hal yang aneh. Terutama buat ponsel gue. Yang paling konyol adalah dari seorang istri yang menyangka gue ngangkat telepon suaminya. "Ini nomor suami saya!". Yee, maksa. Terserah situ deh. Setelah mengakhiri percakapan yang tidak menyenangkan beberapa jam kemudian suaminya menelepon dan meminta maaf. Hahaha.
Ada lagi yang ingin memindahkan jadwal les piano. "Pak, les pianonya bisa pindah hari nggak? Anak saya mau ujian." Tadinya sih ingin jahil. Nggak tega tapinya hehehe. Ada yang mau kencan, ada yang mau ikut tender projek, dan puluhan telepon konyol lainnya sampai akhirnya ganti nomor. Nomor baru itu pun hilang. Balik lagi deh salah sambung konyol itu…
Tapi si ngajak kenalan ini bukan salah sambung. Yakin. Soalnya selalu dari salah satu operator dengan nomer berbeda tapi pesannya sama. Sempat satu kali saya ingin balas tipu dengan bilang saya akan balas dari nomer saya yang lain dari operator yang sama (padahal mah nomernya si mbud hehehe) tapi tak kunjung dibalas dan malah maksa kalau dari operator gue sms ke operator dia itu gratis. Gratis dari Timbuktu?
Entah modus operandi apa yang sedang dimainkan. Mungkin penipuan. Menjerat kenalan, lalu ketemuan, lalu… entahlah. Kalau biasanya dijerat dengan hadiah mobil, uang, dsb. sekarang dijerat asmara hehehe.Warga Hedonesia tukang tipu mungkin sedang ngejar setoran sebelum nomer prabayar harus terdaftar akhir bulan ini sehingga segala trik dikeluarkan.
Jadi, ada dua iming-iming yang biasa dipakai untuk bikin orang terlena hingga tertipu: urusan perut (baca: uang) dan di bawah perut. Maka seperti kata bang Napi, "Waspadalah! Waspadalah!".
Maret 23, 2006
· Disimpan dalam enggak penting
I'm in the loop trying to break out

Maret 2, 2006
· Disimpan dalam enggak penting
Halo planet biophilia!
Baru ikutan nih. Walaupun memang sempat absen/jarang ngeblog, setidaknya gue nggak malu-malu ikutan planet seperti Rima hahaha
Sebenarnya mau cerita soal flu burung, tapi say hi dulu aja deh. Lo, kenapa migrasi ke sini? Karena blog ini jang bahwasanja dibikin sedjak November tahoen silam beloem joea ditoelisi. Alasan lainnya: karena belum punya rumah baru buat blog gue. Jadi wordpress.com ini bisa jadi bivak sementara lah 
Hmm, tentang flu burung itu… kalau ada doa yang bisa membuat dosa mungkin doa gue ini: Ya tuhan, jadikanlah pejabat-pejabat, keluarga, atau sanak saudaranya terjangkit flu burung (sekedar gejalanya boleh juga deh, tuhan). Hehehe
Ya bukannya apa-apa. Semoga dengan cara itu, pemerintah (dept. pertanian) mau lebih serius mengurusi bangsa burung dan binatang menyusu (mamalia bisa kena juga lo!) yang kena selesma burung yang diakibatkan virus H5N1 itu. Karena sudah jadi rahasia umum bahwa banyak pejabat Negara Kleptokrasi Rekiplik Hedonesia ini kalau bukan urusan duit dan kepentingan golongan/keluarga sering tidak optimal kerjanya.
Flu burung memang tidak perlu (terlalu) ditakuti. Asalkan TUMPAS benar-benar dilaksanakan. (Tapi ya itu tadi, seringkali kita benar-benar tidak melaksanakan. HIks.) Tapi yang mengkhawatirkan adalah mutasi H5N1 sehingga dari mulanya menyebar dari burung ke manusia (mamalia) saja akhirnya berevolusi menjadi bisa menyebar antar manusia! alias H2H (Human To Human).
Kekhawatiran ini akan terus meningkat karena setiap ada kasus manusia terinfeksi (dari burung). Kemungkinan mutasinya (menjadi H2H) semakin bertambah. Lalu bagaimana pula kasus infeksi kepada manusia bisa berkurang kalau pemerintahan terkesan lamban menghentikan terjadinya outbreak?
Kalau gue jadi mentan:
- Unggas yang dipelihara di kompleks perumahan harus berizin dan berada dalam kandang dengan kondisi baik (ukuran dan kebersihan kandangnya bagus)
- Setiap ada kasus di suatu lokasi. Culling (pemunahan) dilakukan dengan sungguh-sungguh dan menghindari hobi memvaksin unggas. Memang ini artinya pengeluaran dana untuk culling dan dana kompensasi untuk pemilik unggas serta skema jaminan untuk pengusaha unggas. Tapi mau bagaimana lagi? Membiarkan pandemi terjadi?
- Relokasi peternakan unggas dalam radius tertentu dari pemukiman
Nah, yang barusan itu sebenarnya sudah sering baca di koran, kan? Sama sekali bukan gagasan baru. Tapi kelihatannya tidak dilaksanakan dengan baik.
Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama berbuat dosa >:-) marilah kita berdoa seperti doa saya barusan bagi pejabat-pejabat itu. Amien..
akhirnya bukan sekedar say hi lagi deh. hehehe