Arsip untuk Juli, 2005

Membaca zaman

Sambil menunggu giliran cukur, saya ambil koran yang tergeletak di sana. Tidak ada berita menarik. Dalam arti, tidak ada kejutan yang membuncahkan rasa optimis bahwa Indonesia sedang bangkit. Tiba-tiba bapak yang duduk di sebelah saya bertanya, “*BBM tos naek deui*?” (BBM sudah naik lagi?).

Saya taksir usianya lebih dari 60 tahun, putih sudah mendominasi kepalanya. Tapi sorot matanya masih menunjukkan ketajaman. Saya cuma bisa menimpali dengan basa-basi dan bertanya balik (sambil menguji:) ), “*Teu acan, Pa. Kedah naek deui kitu*?” (Belum, Pak. Apa harus naik lagi?). Saya pikir beliau akan *ngomel* mengenai kesulitan hidup dan kebodohan pemimpin (seperti yang biasa saya lakukan di sini ;) ). Tetapi tidak. Beliau ternyata membaca zaman.

“*Nya, da kumaha atuh. Ari ayeuna harga per barrel di luar teh pan 60 dolar. Ari APBN di urang patokanna di 45 keneh*”. (Ya, ‘gimana dong. Sekarang harga minyak dunia 60 dolar per barrel. Tapi APBN kita masih mematok jauh di bawahnya).

Terus terang saya terkejut dengan jawaban tersebut. Cobalah tanyakan pertanyaan yang sama kepada pelajar SMU atau bahkan mahasiswa. Saya yakin lebih banyak yang tidak paham ketimbang yang paham (gitu lo). Saya pikir kenyataan ini cuma membuktikan bahwa retorika dan strategi reaktif yang diambil oleh pemimpin kita sudah terlihat nyata kebodohannya. Sangat terbaca. Bahkan oleh rakyatnya yang mungkin cuma lulus SMA.

Setengah tahun pasca tsunami, pembangunan apa yang dirasakan di ujung barat Indonesia sana? Mengatasi krisis energi, kebijakan apa yang dikeluarkan oleh Presiden? Ditempa kasus kekurangan gizi? Keluar ‘instruksi’. Coba bandingkan dengan kelompok yang memberikan bantuan berupa ayam (hidup) agar masyarakat dapat mendapatkan telur sebagai asupan nutrisi yang relatif berkelanjutan.

Sayang sekali, sebentar kemudian giliran kami sudah tiba dan kami tidak sempat berdiskusi lebih lanjut. Tapi sudah jelas, bahwa yang diinginkan rakyat adalah kebijakan yang bijaksana, bukan “instruksi” yang memberi ilusi bahwa pemerintah “sedang” bertindak. Dan beginilah saya mulai *ngomel* lagi, memang saya belum sebijak bapak tadi…

Komentar bertahan »

gie

menonton gie membuatku merasa sepi tertelan zaman yang terus beralih.. nobody knows my sorrow and i’ll always be gelisah and can’t make peace with myself. (even though that now i’m a bitter realist)

Resensi menyusul, tapi bintangnya: 2 dari 5

Komentar (2) »

tom

I think this guy shares my feeling..

Komentar bertahan »

:(

And the useless crap’s coming from the british prime minister himself: “…We know that these people act in the name of Islam…(but…)”. Well, I’m not religious but I know that those zealots acts in the name of terror and greed (for poweror oil or whatever) just as the one that Blair and Bush do in Iraq. I condemn both greed and violence.

Komentar bertahan »

Damn terrorist!

Condolences for the victims . Why don’t the president fight the war? Why do they always send the poor? Why don’t the terrorist leader sacrifice their own live? Why do they always send the peons?

Komentar bertahan »

aku cinta pemerintah indonesia

Di mana lagi kita bisa menemukan *reality show* jaka sembung bawa golok (*nggak nyambung gitu lo*) yang diperankan oleh para pejabat kalau bukan di Indonesia? Untuk memerangi penyalahgunaan NAZA, solusinya adalah mengirimkan pesan “Stop penyalahgunaan narkoba!”. Syukurlah Bapak Presiden tidak memiliki putra pecandu narkoba.. sehingga mungkin beliau tidak tahu apa penyebab seseorang menggunakan narkoba?

Baiklah, saya tidak berusaha sok tahu apa penyebabnya. Saya tidak punya data dan tidak pernah menelitinya. Mari kita berbaik sangka kepada beliau. Sebagai doktor alumnus IPB (*gitu lo*) tentunya beliau tahu kaidah menjawab pertanyaan yang *nyambung*. Sehingga mungkin beliau telah menemukan bahwa jika pecandu narkoba diberi perhatian maka mereka akan tobat sehingga mereka perlu diberi perhatian dengan layanan pesan singkat (SMS).

Ya betul juga sih, sepengamatan saya perhatian dan komunikasi berkaitan dengan kasus narkoba. Tanpa bermaksud menyepakati “kelancangan” pengiriman pesan singkat yang tidak diharapkan (*unsolicited*), alangkah baiknya jika pesan tersebut berisi ajakan yang lebih **nyata** seperti *have you hug your children today?*; atau *jangan lupa jemuran diangkat* :D ; *matikan teve, bacalah buku dan buka kamus*; *hormati gurumu, sayangi teman, itulah namanya kau murid gaul (gitu lo)*; dst. Meminta perokok untuk berhenti merokok hanya akan berhasil jika mereka menemukan kenikmatan baru. Sehingga memang perokok harus dirayu dengan kenikmatan lainnya, bukan disuruh berhenti merokok. (Sepertinya) demikian pula dengan narkoba.

Jaka Sembung berikutnya adalah pemilihan Fauna Identitas Jawa Barat. Sebenarnya mudah ditebak bila yang diinginkan menjadi fauna kebanggaan adalah harimau karena secara historis Siliwangi identik dengan Harimau Lodaya (*Panthera tigris sondaicus*). Namun yang menjadi Jaka Sembung adalah **dasar** pemilihannya (*gitu lo*). Sejak tahun 2000(!) telah dilakukan perembukan untuk memilih dan akhirnya menghasilkan kandidat Surili, Owa Jawa, Elang Jawa, dan si Mbah (*lamun di leuweung pamali nyebat macan, biasana disebat Meong atawa Mbah*).

1. *Merupakan jenis asli yang hidup di Jawa Barat*. entahlah definisi asli itu apa? yang jelas para hewan itu tidak punya KTP JaBar ;) Mungkin maksudnya endemis?
2. *Memiliki nilai historis, budaya atau kekhasan pemanfaatan setempat*. Saya bukan ahli antropologi, tapi kira-kira yang tepat adalah *P.t. sondaicus* meskipun sudah punah
3. *Mempunyai tingkat kelangkaan* Apa itu “tingkat”? dan apa yang tidak langka sekarang? :(
4. *Penyebarannya terbatas (endemisitas)*. Tentu saja Surili. Dari namanya saja sudah sangat khas Jawa Barat. Yang lainnya “cuma” khas Jawa, bukan Jawa Barat.
5. *Berperan secara ekologis dalam ekosistem dan pelestariannya oleh masyarakat berimplikasi pada kualitas lingkungan.* Sejak kapan ada mahluk yang tidak memiliki peran ekologis? #-o *Dasar kufur ni’mat!*
6. *Dapat dibudidayakan atau dilindungi secara alami.* Apa maksudnya? Ingin satwa yang hidup bebas atau hewan ternak, sih? :(

Kalau saya jadi tim pemilih, maka finalisnya adalah *P.t. sondaicus* (meski sudah punah) dan *Presbytis comata* (Surili). Entah bagaimana caranya *P. pardus melas* (Leopard Jawa) bisa jadi juara.. Lagipula tidak tepat disebut macan tutul, karena *P.p. melas* yang berkulit legam (hitam, bukan coklat/kuning) umum terdapat di Jawa karena hidupnya di hutan (rapat) ketimbang saudaranya di Asia Selatan yang hidup di dareah lebih terbuka. Ini bisa menjadi masalah di lapangan ketika timbul interpretasi (*ngaco*), yang hitam *mah* nggak apa-apa ditembak, kalau yang tutul jangan. #-o

Ya.. saya tidak bisa menyalahkan “kejakasembungan” barusan, karena menyangkut “kebanggan” daerah. Tidak bisa menyalahkan pula keengganan bapak gubernur untuk memilih primata (Surili) yang dianggapnya memiliki konotasi buruk (sayangnya saya tidak menemukan artikel koran yang mengungkapkan keberatan bapa gubernur). Tapi cobalah kita melihat dari sudut lain…

Orangutan yang “asli” Sumatra dan “asli” Kalimantan, dengan senang hati diaku oleh Malaysia yang hanya memiliki secuplik bagian dari Kalimantan. Jika warga dunia mengingat Orangutan, yang diingat niscaya adalah Borneo dan Malaysia alih-alih Indonesia, padahal kita juga bisa mengakuinya. Apakah orang Malaysia itu lantas bertingkah atau berciri seperti Orangutan? Demikian pula dengan keris, anggrek, dan batik yang diaku oleh Singapura. *Hmm.. jadi pengen jalan-jalan cari Surili… untuk bilang: Kaciiiaaaan deh loe!*:(|)

Komentar (4) »