Arsip untuk Juni, 2005

spam from president

Mr. President thinks that I’m a drug addict. What a wonderful day.

Komentar bertahan »

Wapres Nilai Pernyataan Ermaya Pendapat Pribadi – Sabtu, 25 Juni 2005

Bapak wakil presiden, seorang saudagar konon boleh bohong karena tidak boleh melakukan kesalahan agar tidak merugi. Sementara itu, seorang peneliti tidak boleh bohong walaupun hasil penelitiannya tidak berkenan di mata bapak presiden. bikin males jadi peneliti ‘pelat merah’ :(

Komentar bertahan »

Resensi kumcer Kanakar — Ucu Agustin

Sejak pertama kali mengenal tulisan Ucu aku selalu terkagum akan imajinasinya. Tidak perlu terkejut mendengar akhirnya dia mengeluarkan kumpulan cerpennya. Tidak perlu terkejut pula membaca resensi yang positif dari kumcernya itu. Selamat, Cu! :)

Komentar (4) »

Polusi

Polusi Solusi

Bosan rasanya baca berita hari ini, polusi di Bandung mengkhawatirkan rasanya sudah jadi wacana sejak SMA belum menjadi SMU. Masalah ini lumrah saja karena **daya dukung** Bandung memang tidak cukup untuk jadi pengungsian akhir minggu warga Jakarta. Kota yang sedianya adalah kota peristirahatan kecil, malah jadi salah satu kota terpadat di Indonesia. Tapi siapa pula yang sudi menampik gelimang rupiah dari ibukota?

Maka sudah saatnya Bandung bertanya pada diri sendiri. Mau jadi apa Bandung? Jadi *Mexico City van Java* atau mau jadi kota nyaman bermartabat? Rupiah memang tak perlu ditampik karena kita pun ingin kota yang berkembang dengan fasilitas umum baik dari pajak yang didapat. Siapa yang tidak ingin membayangkan dari Kopo ke Ledeng atau Cibeureum ke Cibiru menaiki kereta api bawah yang nyaman dan cepat? Siapa pula yang tidak ingin membayangkan adanya jalur trem antara alun-alun dan gasibu?

Kalau saya jadi Pa Dada, maka teh Keu adalah anak saya. Lho? Kalau saya jadi walikota Bandung, gagasan *ngaco* saya adalah membuat lapangan parkir bertingkat di gerbang kota. Untuk apa? Untuk menampung kendaraan dari luar kota pada akhir minggu. Kalau mereka ingin kendaraan dengan pelat luar Bandung masuk kota hari Jumat-Sabtu-Minggu, per kendaraan harus membayar bea masuk, katakanlah, Rp. 199.900,- saja. Tapi kalau ingin parkir, cukuplah membayar Rp. 49.000,- saja. Dari lapangan parkir raksasa tersebut –perusahaan Jepang mesti digandeng untuk hal ini, setahu saya mereka jagonya *nyimpen* kendaraan parkiran karena lahan di Jepun sempit– disediakan bus ulang-alik ke pusat kota, daerah wisata, dan pusat-pusat belanja.

Kendaraan asal Bandung adalah sumber masalah lain. Kendaraan yang tidak lolos uji emisi harus segera dibusek. Ini masalah komitmen. Karena sampai sekarang kita masih harus menghisap udara kotor dari bensin bertimbal –yang membuat kecerdasan anak-anak (*and sadly, me*) melorot sekian poin, maka hanya kendaraan yang lolos uji emisi yang boleh melaju. Oh, ya.. dan juga **emisi suara**! Selera musik saya mungkin tidak lazim, tapi saya paham betul suara yang dihasilkan knalpot bocor itu tidak syahdu di telinga. Harus dipikirkan pula cara untuk menjadikan sepeda menjadi alat transportasi utama.

Kalau angsa bertelur emas bisa bertelur sebutir sehari, jangan paksa ia bertelur 2 butir sehari. Bisa-bisa mati sebelum waktunya.. tidakkah lebih baik menjaga **keberlanjutan** dengan menjaga **daya dukung**? Saya tidak ingin kota ini *betulan* menjadi Mexico City van Java (maaf untuk walikota Mexico City) melainkan kembali jadi Parijs van Java.

Komentar (4) »

If the future’s not bright at least it’s colourful

If the future’s not bright at least it’s colourful

Komentar bertahan »