Oktober 31, 2004
· Disimpan dalam biophilia
Seminggu yang lalu aku sempat bertandang ke rumah Yosi, ternyata —entah bagaimana caranya, mungkin terbawa bibit tanaman lain; tumbuh suweg (sesaudara bunga bangkai) di halaman rumahnya. Selain si suweg, tentu saja masih banyak anggrek-anggrek yang tumbuh subur di rumah pecinta [epifit indah](http://www.photo.net/photodb/photo?photo_id=1100329 “anggrek”) itu.
Setelah bicara *ngalor-ngidul* mulai dari presiden yang ternyata kompromistis(?) menghadapi tekanan dari sana-sini… *nggosipin* biotek… sampai urusan bisnis, pembicaraan beranjak serius meyangkut nasib anggrek Indonesia. Beberapa tahun belakangan, spesies anggrek non-silangan (biasa disebut anggrek spesies) mulai diminati kembali oleh kolektor. Gempuran anggrek hibrida (silangan) dari Taiwan rupanya membuat pasar cukup jenuh dan anggrek ‘asli’ pun dilirik kembali. Masalahnya…
Baca entri selengkapnya »
Oktober 28, 2004
· Disimpan dalam biophilia
Baru ditemukandiumumkan (aku hampir ketinggalan beritanya) “fosil” hominid yang diberi nama *Homo floresiensis* di Flores oleh peneliti Australia dan Indonesia. Beberapa media menyebutnya ‘hobbit’ karena memang tinggi tubuhnya yang semampai (semeter tak sampai
). Implikasi dari penemuan ini cukup serius tapi aku terlalu lelah dan ngantuk :zzz: untuk memberi komentar.
Beberapa taut berita:
* [Reuters.com](http://www.reuters.com/newsArticle.jhtml?type=scienceNews&storyID=6637279&src=rss/scienceNews§ion=news): *Scientists have discovered a new and tiny species of human that lived in Indonesia at the same time our own ancestors were colonising the world.*
* [nature.com](http://www.nature.com/news/2004/041025/full/4311029a.html): *It’s the most extreme example ever found of human adaptation*.
* [kumpulan berita di Nature.com](http://www.nature.com/news/specials/flores/index.html): *It sounds too incredible to be true, but this is not a hoax.*
* [Carl Zimmer](http://www.corante.com/loom/archives/026745.html): *Scientists are going to be talking about it for centuries.*
* [Nationalgeographic.com](http://news.nationalgeographic.com/news/2004/10/1027_041027_homo_floresiensis.html “TinyHuman Ancestor Found in Asia”) *”Given that Homo floresiensis is the smallest human species ever discovered, they out-punch every known human intellectually, pound for pound.”*
Oktober 27, 2004
· Disimpan dalam biophilia
Kliping koran hari ini..
* [Kompas.com: SBY presiden ke-8 bukan ke-6](http://www.kompas.com/kompas-cetak/0410/27/opini/1351018.htm “Kompas.com: SBY presiden ke-8 bukan ke-6″) Kalau saja sejarawan LIPI ini tidak mengingatkan kita, mungkin kita tidak pernah tahu atau lupa ada dua presiden RI yang lain. Terlalu sering dicekoki sejarah versi soeharto mungkin ya? 
* [Kompas.com: Di Sumatera Utara
Ribuan Hektar Tambak Udang Ditelantarkan](http://www.kompas.com/kompas-cetak/0410/27/daerah/1350714.htm) Kalau sudah begini, mengapa hanya Emil Salim yang meributkan pembangungan berwawasan lingkungan dan berkelanjutan? =/
* [Kompas.com: Budidaya Ramah Lingkungan Atasi Terpuruknya Tambak Udang](http://www.kompas.com/kompas-cetak/0410/27/daerah/1350717.htm “Budidaya Ramah Lingkungan Atasi Terpuruknya Tambak Udang”) Kalau sudah tahu, kenapa tidak dijadikan strategi pemerintahan ya? atau belum terdengar? mungkin pak presiden masih perlu berkompromi..
|
* [Kompas.com: Sutiyoso: Hentikan Pencemaran Pulau Seribu](http://www.kompas.com/kompas-cetak/0410/27/metro/1351073.htm) Caranya? apa Bang Yos sudah sering menelurkan kebijakan yang menghindarkan pencemaran?
> “Kondisi ini mengakibatkan rendahnya tingkat penghasilan pendapatan penduduk sehingga perlu diupayakan penciptaan dan pengembangan lapangan kerja sesuai tingkat pendidikan dan keterampilan penduduk setempat,” kata Gubernur.
Kalau sudah tahu begitu, jangan sering bikin kebijakan aneh dong, bang.
Oktober 13, 2004
· Disimpan dalam biologeek
Sebelum Ramadhan yang insya allah akan dimulai kamis (14 Okt) ini, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada hal-hal yang mengganjal. Semoga ramadhan kali ini bisa menyadarkan kita bahwa usaha mengendalikan diri perlu dilakukan sepanjang hayat, baik ketika ramadhan ataupun bukan. :pray:
Ihwal penentuan 1 Ramadhan, rupanya banyak yang belum mengetahui kapan puasa dimulai sebab ketika ngobrol bareng anak-anak, masih ada yang bertanya-tanya… Biasanya kemudian timbul pula kebingungan dalam membedakan hari dimulainya puasa dan awal ramadhan.
Setelah mencoba aplikasi [KStars](http://edu.kde.org/kstars/ “KDE-KStars”) ternyata apa yang terjadi lebih mudah dipahami (setidaknya buat saya). Jika kita lihat gambar berikut:

Tampak bahwa pada *saat matahari terbenam* (di sebelah kanan garis hijau/di bawah ufuk) hari Kamis 14 Oktober esok, bulan telah muncul di atas horizon (meski dalam kasus ini tidak terlalu tinggi) yang artinya bulan baru telah dimulai. Oleh karena itu, maka dapat ditetapkan sebagai *awal bulan Ramadhan.* Tentu saja, saat itu malam telah tiba, oleh karenanya kita **mulai berpuasa keesokan harinya** (Jumat). Inilah mungkin yang membingungkan banyak orang, yaitu karena kalender hijriyah menghitung pergantian hari baru saat matahari tenggelam, tidak seperti pada kalender biasa yang dimulai pukul 00.00.
Kontroversi yang sering terjadi dalam penentuan awal Ramadhan/Syawal, biasanya berkisar antara kemungkinan terlihatnya bulan secara langsung bila dibandingkan dengan perhitungan astronomis. Mengenai hal tersebut, kita serahkan saja kepada pemerintah sebagai lembaga yang berwenang. KStars tidak bisa kita jadikan sebagai penentu awal Ramadhan, tetapi setidaknya bisa membantu kita melihat representasi apa yang sedang terjadi dengan Bulan, Bumi, dan Matahari.
> **Tambahan** (2004/10/13)
> * Tidak dijelaskan mengenai konjungsi/ijtima’.
> * Semestinya ditambahkan bahwa pada hari sebelumnya (Rabu, 13 Okt), saat matahari tenggelam, bulan belum muncul (masih di bawah ufuk) dan pada hari berikutnya (15 Okt), posisi bulan sudah sangat tinggi (pasti terlihat)
> * Ada artikel bagus mengenai masalah ini di [kompas](http://www.kompas.com/kompas-cetak/0410/13/humaniora/1323833.htm) dari ahlinya (astronom *betulan*
)
Oktober 10, 2004
· Disimpan dalam biophilia
Koran Kompas beberapa minggu lalu memberitakan bahwa [Dana Amanah Bank Gen Diusulkan (untuk) Dibentuk](http://www.kompas.com/kompas-cetak/0409/15/ekonomi/1266839.htm “Kompas.com: Dana Amanah Bank Gen Diusulkan Dibentuk”). Sekilas lalu berita ini menunjukkan niat baik yang menggembirakan, namun ada beberapa hal yang mengganjal di otak.
>Meski baru dibentuk, upaya pelestarian plasma nutfah telah lama dilakukan. Pemuliaan tanaman hutan di Indonesia telah dimulai tahun 1930
Mengapa pemuliaan disebut sebagai upaya pelestarian? Pemuliaan memang merupakan upaya manusia yang perlu dilakukan mengingat kebutuhan manusia berkembang dengan pesat. Namun demikian, tidakkah kita memahami bahwa keanekaragaman hayati tersebut “terhadirkan” (*realized*) ketika segenap entitasnya berinteraksi —alih-alih berdiri sendiri-sendiri seperti dalam monokultur? Sungguh celaka jika kita *merasa* telah menyelamatkan plasma nutfah padahal kita sekedar mengambil suvenir untuk dihadirkan kepada anak-cucu kita kelak.
Jika kita tinjau dari istilah pemuliaan, pemuliaan lebih sering digunakan untuk memperbaiki kualitas tanaman produksi agar dapat berproduksi lebih banyak dan lebih tegar menghadapi cekaman hama serta lingkungan. Maka pemuliaan macam apa yang kita harapkan dari organisme yang telah “memuliakan” dirinya sendiri (“bersujud terhadap mekanisme alami”) dalam evolusi yang telah berlangsung sekian lama?
Jargon-jargon seperti “pengawetan”, “berkelanjutan”, “menggali kekayaan plasma nutfah” hanya menambah pilu saja..
Oktober 8, 2004
· Disimpan dalam enggak penting